Tampilkan postingan dengan label Jalan Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan Catatan. Tampilkan semua postingan

SATU DEKADE

*Editorial Reuni ke IV Alumni 2004 SMP N 2 Kota Mojokerto
(Juga Persembahan Bagi Siapa Saja yang Ingin Mengenang Masa-masa “Jahilliyahnya”)

Pengalaman mengajarkan kita bahwa kualitas sebuah perjumpaan tidak melulu bergantung pada kapan dan di mana kita bertemu. Sekitar sebelas tahun yang lalu, kita sama-sama belum merasa perlu membayangkan bahwa di antara kita nanti harus menggendong seorang anak kecil saat sebuah pertemuan sederhana namun ngangenni seperti ini terjadi. Lalu kita bilang pada teman di sebelah,”Hey, si kecil ini sedang belajar untuk mengucap frase mama-papa lho.”

Resolusi: Meubah Sebuah Tahun

Saya selalu gusar ketika ditanya teman-teman di kampus, apa yang akan saya lakukan demi menyambut Tahun Baru. Saya bilang, saya belum pernah memiliki ritual khusus untuk menyambutnya. Lagipula itu hanya sebuah tanggal 1 Januari. Tidak berbeda dengan 1 Februari ataupun 1 April.


Dan memang, rasanya sangat sulit menemukan sesuatu yang bernilai dari perayaan Tahun Baru di sini. Maksud saya, apa yang bisa kita dapat dari membakar ratusan kembang api, beramai-ramai pergi ke café, tempat karaoke, atau club, atau sekadar keluar jalan-jalan ke pusat keramaian, lalu mendapati esok paginya sebagian besar dari kita terlambat bangun untuk Shalat Subuh, pergi ke Sekolah Minggu, atau pergi sembahyang ke Vihara? Tidak ada, saya kira.

PKKMB: Mahasiswa Ngga’ Cuma Tentang Kuliah, Tidak Pula Unjuk Rasa


Jika ada yang bilang bahwa lulus SNMPTN atau SPMB atau jalur apapun demi masuk perguruan tinggi merupakan sebuah kemenangan yang patut dirayakan, maka itu tidaklah salah. Kita berhak merayakan apa saja yang kita inginkan bahkan jika itu merupakan satu kemenangan kecil. Mendapatkan kenalan cakep pas mengikuti PKKMB, misalnya. Hehehe^^ 

Jika kita merasa itu layak dirayakan, ya monggoh-monggoh saja. Ini negara merdeka, brur. Lagipula kalau kita ingat sudah berapa lama kita mendem perasaan ingin masuk perguruan tinggi hanya untuk menyandang terma Mahasiswa, maka lulus tes masuk perguruan tinggi juga bisa dikatakan sebagai suatu kemenangan yang lumayan.

“Nah loh, kuk lumayan? Tes masuknya susah, tau!” sergah kawan sebelah tidak terima. Naga-naganya situ Maba yah, Mahasiswa Baru?

Pupus

Rasanya aku pernah menyempatkan sedikit waktu untuk menulis pesan padamu -Menanggapi kesakitanmu di satu malam tiga tahun silam. Saat kerinduanmu membentur dinding-dinding beku yang acuh memantulkan segala rasa kesalmu, laki-laki itu malah sibuk menyemai buah kangen yang lain. Dari perempuan lain, katamu. Saat itu aku hanya mampu menulis: Tenanglah. Jauh di palung hatinya, lelaki itu juga takut kehilanganmu.

Me Time Vs Writer’s Block

Konon, setiap dari kita pasti pernah mengalami masalah dengan mood yang bisa mengurangi hasrat kita terhadap sesuatu.  Misalnya ketika anda kehilangan hasrat untuk makan setelah seorang teman bercerita hal-hal yang membuat anda menjadi mual. Pertanyaan selanjutnya adalah: bagaimana cara mambangun kembali mood tersebut? Jawabannya sebenarnya sederhana, anda tidak mungkin berhenti makan selamanya!

Beberapa jam yang lalu seorang kawan baik menanyakan hal serupa namun dengan subyek pembicaraan yang berbeda. Saya kira dia adalah orang kesekian yang mengaku memiliki hasrat menulis atau menjadi seorang penulis. Namun di saat yang bersamaan, hasrat itu, ia akui sedang mandek. Entah oleh waktu luang yang tidak memungkinkan atau kadang juga karena mood. Dalam istilah populer dunia kepenulisan, gejala mandeknya proses kreatifitas menulis biasa disebut dengan writer’s block.

Korelasi Skripsi dengan Orang-Orang Membosankan di Senayan


Akhir-akhir ini saya menemukan banyak sekali alasan untuk bosan. Rasa bosan tersebut masih harus diakumulasi dengan perasaan exhausted yang membuncah -ketika setelah sekian jurnal bahasa yang saya baca tidak juga memberi saya ilham untuk menentukan judul skripsi agar bisa saya selesaikan akhir April nanti. Barangkali kebosanan saya ini sama besarnya dengan apa yang dirasakan oleh orang-orang DPR. Anda tahu, mereka sedang bernafsu membangun gedung baru senilai triliunan rupiah. Hipotesa saya, mereka hanya bosan dengan gedung lamanya yang tidak memiliki tempat spa, kolam renang, dan fasilitas hotel bintang lima lainnya. “Ini untuk mengoptimalkan kinerja anggota kita,” ujar Marzuki Alie, ketua DPR yang sekaligus merupakan makhluk paling lucu di seantero Sinayan.

Kado Terindah


Beberapa hari yang lalu, seorang teman bertanya tentang kado apa yang kira-kira cocok dibungkuskan buat kekasihnya. Agak sedikit lucu, mengingat (setahu saya) hubungan mereka yang tidak kurang dari empat tahun sejak mereka masih berseragam putih-abu2.

Dalam masa sepanjang itu, bukankah tidak terlalu sulit untuk sekedar menerka apa yang sekiranya diinginkan oleh pasangan kita. Kemudian saya teringat tentang catatan saya yang berjudul "Tambahkan Cinta dan Kurangi Benci" yang lebih dulu saya posting di Notes (Facebook). Bahwa bukanlah hal yang tidak mungkin untuk kita tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh pasangan kita, justru setelah bertahun-tahun kita mengenal dan dekat dengannya.
Atau... malah bisa jadi juga kita bingung, justru karena kita sudah memberikan semua yang pernah diinginkannya sehingga sulit memilih mainan baru untuknya. Ah, jadi ikut bingung juga akhirnya...

Saya, Ibu, Presiden, dan Sinetron


Beberapa sahabat saya sering memersoalkan tentang kenapa saya jarang pulang padahal rumah relative dekat meski berada di luar Surabaya. Dan setahu mereka, tidak ada yang perlu saya apeli di sini saat akhir pekan tiba.


Itulah satu-satunya kabar baik yang bisa saya sampaikan saat ini setelah lama tak menulis di notes (sejak dari PPL di Kediri).