Tampilkan postingan dengan label Jalan Setapak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan Setapak. Tampilkan semua postingan

Kenapa Harus Kartini?


Nama R.A.Kartini, muncul pertama kali di benak saya ketika saya masih duduk lucu di bangku suatu Taman Kanak-kanak tak jauh dari tempat saya tinggal. Anda tahu, di usia tersebut anak-anak akan cenderung memasukkan apa saja ke dalam otaknya tanpa perlu mencantumkan bab analisa di dalamnya. Langsung kesimpulan. Buku sejarah sekolah saya imani. Perintah sekolah untuk siswa agar memakai baju adat saat Hari Kartini juga saya turuti tanpa banyak bertanya.

Namun seiring bertambahnya usia yang diikuti pula oleh bertambahnya jumlah referensi sejarah yang saya baca, saya mulai berani menawarkan pertanyaan,”Kenapa harus dan hanya Kartini? Dan kenapa bukan yang lain?”

Sore Ini...

i hugged you so tightly, so you won't feel so lonely
Aku mencoba mengingat suatu hari yang entah kapan tapi pasti pernah kita lalui. Kau tahu, tak pernah ada tanggal bagi kita. Memori itu sering muncul begitu saja tanpa perlu terlebih dahulu aku membuka kalender. Kau duduk di tepian telaga malam-malam. Menangis. Kau umpat dunia dan seisinya yang mungkin akan kau hancurkan jika saja kau mampu. Kau begitu menyukai bulan dan bintang, tapi tidak dengan bumi. Kau bilang, bumi terlihat buruk sebab ada banyak laki-laki di dalamnya.
Nampaknya kau sedang patah hati. Dan entah sudah yang keberapa, aku tak ingat.

“Semua laki-laki itu sama.” Katamu, seolah sudah dikhianati oleh seluruh laki-laki. Seolah-olah kau sudah pernah menjadi kekasih semua lelaki. Kau bahkan menafikan bahwa aku yang sedang memeluk menenangkanmu adalah juga laki-laki. Hanya saja kau lebih suka memanggilku, “adik”.  Ah, aku bahkan bukan adikmu…

Airport

Baru saja kupejamkan mata. Saat aku membukanya, aku baru tersadar bahwa banyak yang akan aku rindukan setelah ini. Aku ingat saat pertama kali masuk kuliah, ketika pertama kali bertemu denganmu: sebuah ruangan bernama T4.03.11, 12 Sepetember 2007. Sweater hitam dengan bawahan accent blue jeans. Aku hanya melihat bahumu saat mendengar nama Berliana Galuh dipanggil yang kemudian diikuti oleh acungan tangan kananmu. Dalam satu undian, kamu sekelompok denganku. Dan hei, aku jadi punya nomer ponselmu. Aku pun mengajakmu keluar pertama kali pada malam rabu menjelang akhir semester 1. Apa kamu sadar, Lian? Aku belum pernah segugup itu berhadapan dengan seseorang. Bahkan sampai hari ini, belum kutemukan rasa gugup yang sama dengan waktu itu. Yah, ada kekuatan di wajah kamu yang selalu bisa membuatku kehilangan kemampuan berbahasa saat menatapnya. Ah, dasar Jelek...